Bincang-bincang bersama Pak Supir

Hari ini saya seperti biasa menggunakan kendaraan umum untuk berpergian. Sudah menjadi hal lumrah jika angkutan tersebut ngetem dan yah..seperti penumpang pada umumnya pula saya sedikit kesal. Ditambah disekitarnya ada aparat negara…namun entah mengapa aparat negara seolah buta dengan pelanggaran nyata ini. Tak lama kemudian,aparat negara menerima sejumlah lembar seribuan dan sepuluh ribuan dari aparat lain dan lembaran-lembaran itu pun berpindah tangan. Saya pun syok.

Di depan saya ada seorang bapak,teman dari sang supir angkutan umum yang saya gunakan. Melihat objek yang sama,lalu saya beranikan bertanya “Pak itu..(sambil nunjuk pake mata ke aparat) apa sering terjadi”. Ternyata eh ternyata jawabannya lebih siyok lagi “Udah sering neng..itu mah jatah..ga hanya dari preman aja dari PSK juga..10 ribu perorang supaya ga ditangkep gitu”. Saat itu rasanya pingin banget nangis. Yah idealitas yang selama ini saya bicarakan dengan teman saya itu Cuma ada dikampus doang, realitanya….silahkan lihat sendiri. Sepanjang perjalanan saya berbincang dengan bapak yang ternyata seorang supir angkutan umum juga. Beliau menceritakan kalo hal yang bikin siyok saya tadi itu tiap hari terjadi ga hanya di tingkat terendah..tapi di tingkat teratas juga,intinya sih begitu. Dan suap selalu terjadi saat semua bentrok dengan administrasi yang berhubungan dengan aparat negara yang pada umumnya administrasi adalah hal yang paling memakan waktu di negara kita. Sepertinya pepatah “Time is Money” benar-benar berlaku di negara ini

Bincang kami selesai ketika sampai di tempat yang saya tuju. Pulang dari sana saya menggunakan angkutan umum lagi. Namun kendaraan ini biasanya digunakan untuk kalangan menengah keatas..maklum angkutan yang lebih merakyat pada malam hari tidak tersedia. Dia menceritakan barang-barang yang diekspor merupakan kualitas yang luar biasa contohnya sendal cibaduyut. Di negeri sendiri,sendal cibaduyut berkualitas rendah,tidak modis dan tidak nyaman di kaki..sehingga harganya pun murah. Begitu sendal khas Indonesia ini sampai diluar negaranya,kualitasnya berubah seratus delapan puluh derajat. Sendal cibaduyut menjelma menjadi sendal yang modis,nyaman dan dijual dengan harga tinggi. Dia menambahkan bahwa pengrajin Indonesia bukan tidak bisa membuat barang bagus, semua balik lagi kepada uang.

Inti dari bincang-bincang kali ini bahwa betapa hebatnya kekuatan uang di negara ini. Dimana uang bisa membeli waktu dan uang juga bisa membeli kualitas. Ironis sedih dan menyakitkan. Padahal Cuma lembaran yah..pengaruhnya sungguh luar biasa.

Wallahualam

 

Advertisement
Published in: on June 24, 2011 at 12:45 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: http://chemistrylatte.wordpress.com/2011/06/24/bincang-bincang-bersama-pak-supir/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.